12 Maret 2014

10 Film Horor Terseram Abad 20

| 12 Maret 2014
Ngomongin soal film horor jaman sekarang terutama yang telah beredar di abad 21 ini pasti  selalu mempertontonkan  visual effect sampai audio yang di bikin juantung berdebar dan menakutkan,selain di balut dengan alur cerita yang bikin kita kaget kepayang waluapun kadang ada juga film horor yang cuma menayangkan paha dada paha dada hahaha. Terus bagaimana dengan film Horor di abad 20 dulu?apakah semenakut sekarang?. tenang teman-teman jangan salah menilai dulu ternyata film Horor zaman dulu juga tidak kalah menyeramkannya bahka audio dan effect visualnya tidak kalah canggih dan bahkan ada beberapa film yang sampai sekarang masuk nominasi film horor terbaik sepanjang masa, berikut wisata mistis akan mengulas 10 Film Horor Menegangkan, Terseram dan Termistis Abad 20 versi Komunitas Wisata Mistis.
10. The Innocents (1961)

Bercerita tentang Miss Giddens yang dipekerjakan untuk mengasuh dua orang anak orang kaya di suatu rumah besar di pedalaman Inggris.
Awalnya semua berjalan normal sampai akhirnya Miss Giddens mulai merasakan ada keanehan di rumah tersebut, mulai dari suara-suara aneh sampai sosok hantu yang muncul tiba-tiba.Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa orang yang ia gantikan ternyata meninggal karena bunuh diri.
Sebuah film horror klasik dimana ketegangan dibentuk hanya oleh teknik kamera yang dipadukan dengan iringan musik yang menakutkan, apalagi ditambah lagu senandung yang kalau diulang-ulang nyerimin juga.
Sebuah cerita yang menarik karena penonton TIDAK di gurui atau dijejali teori-teori yang harus penonton telan mentah-mentah, disini cerita mengalir dan berhenti ditempat yang tepat sehingga segala kemungkinan dan persepsi dikembalikan kepada para penonton.
9. The Amityville Horror (1979)

Sepuluh film telah terinspirasi dari buku ‘The Amityville Horror’pada 1977  yang dikabarkan berisi rincian pengalaman George dan Kathy Lutz, pasangan muda yang meninggalkan rumah di 112 Ocean Avenue di Amityville, New York, setelah 28 hari mereka mengalami insiden yang mereka sebut sebagai insiden paranormal.
Margot Kidder dan James Brolin memerankan keluarga Lutz di film aslinya pada 1979 yang menampilkan mereka yang diteror oleh insiden yang tidak bisa dijelaskan, termasuk cairan hitam ada di sekeliling rumah dan George yang terus terbangun pada pukul 3:15 pagi. Hingga akhirnya keluarga Lutz menemukan bahwa rumah mereka dibangun di atas tanah pemakaman Indian.
8.The Omen (1976)

The Omen, Film bergenre horor ini memang film yang tergolong tidak baru lagi. Bahkan, banyak pemain dalam film ini yang sudah meninggal. Film horor yang banyak menampilkan adegan menegangkan ini dirilis tahun 1976. Menceritakan seorang istri duta besar (Lee Remick), yang melahirkan anak, namun sudah meninggal ketika dilahirkan, kemudian sang suami (Gregory Peck), menukar anaknya yang telah meninggal dengan seorang anak laki-laki yang ternyata iblis. Asal usul sang anak bahkan tak diketahui. Banyak kejadian aneh yang selalu menimpa keluarga sang duta besar, mulai dari datangnya anjing iblis misterius, meninggalnya seorang pengasuh, meninggalnya pendeta tertimpa penangkal petir, datangnya pengasuh yang ternyata utusan iblis untuk membantu anak iblis tersebut, dan masih banyak lagi, bahkan anak tersebut (Harvey Stephens), akan membunuh keluarganya dan mengambil seluruh kekayaannya. Ketika sang ayah mengetahuinya, ia berencana untuk membunuh anak tersebut dan membawanya ke gereja untuk mempersembahkan darah anak iblis tersebut.
7. The Sixth Sense (1999)

Cole seperti halnya anak-anak kecil lainnya, tentu saja ketakutan mengalami fenomena tersebut. Namun ia juga tertekan dan tidak berani menceritakan kemampuannya melihat hantu kepada orang lain termasuk ibunya, Lynn Sear (Toni Colette). Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang ahli psikologi anak, Dr. Malcolm Crowe (Bruce Willis). Psikolog anak terkenal tersebut bersedia membantu Cole, walau ia sebelumnya mengalami kejadian dimana mantan pasiennya membunuh diri di hadapannya. Sebab Crowe melihat kasus Cole ada kemiripan dengan kasus mantan pasiennya yang bunuh diri itu.
Karena ia tidak ingin mengulangi kegagalannya yang dulu itu, sehingga Crowe dengan sabar berusaha mendekati Cole agar membuka dirinya kepada sang psikolog. Walau sempat terkejut dan tidak mempercayai pengakuan Cole yang bisa melihat para hantu, Crowe berhati-hati agar tidak salah langkah dalam memberi terapi kepada sang pasien ciliknya. Sayangnya dalam proses penyembuhan Cole, Crowe malah tertekan pula karena istrinya, Anna Crowe (Olivia Williams) tampak makin jauh dari dirinya dan tidak mempedulikan suaminya.
6. Ringu (the ring) (1997)

Ringu menceritakan tentang sebuah video-tape yang berisi kutukan hantu Sadako. Siapa saja yang telah menontonnya, akan mendapat telefon yang menyatakan bahwa dia akan mati dalam waktu tujuh hari. Reiko, seorang wartawati single parent, menemukan bahwa kematian kemenakannya disebabkan oleh video kutukan yang ditonton oleh kemenakannya dan beberapa temannya yang lain –yang juga tewas di waktu yang sama dan dengan kondisi yang sama-sama mengerikan—di sebuah penginapan di Izu. Didorong oleh rasa penasaran, Reiko datang ke Izu dan menonton video tersebut. Reiko menyadari bahwa bahaya mengincarnya setelah dia mendapat telefon misterius yang menyatakan dia akan mati tujuh hari kemudian. Dengan bantuan mantan suaminya, Ryuji Takayama, Reiko menyelidiki tentang video tersebut. Keinginannya untuk mematahkan kutukan tersebut semakin kuat setelah putranya, Yoichi, tanpa sepengetahuannya diam-diam menonton video kutukan tersebut. Dari penyelidikan diketahui, bahwa video tersebut membawa kutukan Sadako, seorang gadis yang memiliki kekuatan supranatural yang berasal dari pulau Izu Oshima. Sadako dibunuh oleh ayahnya. Dia dikubur hidup-hidup di dalam sumur, yang ternyata terletak di dalam salah satu kabin di Izu. Reiko dan Ryuji berusaha untuk mengambil mayat Sadako dan menguburkannya dengan layak sebelum waktu kematian Reiko tiba. Diharapkan, mereka bisa mematahkan kutukan Sadako setelah memindahkan mayatnya dari dalam sumur. Reiko lolos dari kematian, membuat Reiko dan Ryuji merasa aman. Namun ternyata, hantu Sadako tetap datang kepada Ryuji dan membunuhnya. Kematian Ryuji yang tiba-tiba menyadarkan Reiko, bahwa kutukan Sadako yang sebenarnya tidak dapat dipatahkan. Reiko selamat karena dia men-copy video tersebut dan memberikannya pada Ryuji. Men-copy dan menyebarkannya pada orang lain merupakan satu-satunya cara untuk selamat dari kutukan Sadako.
5.Malam Satu Suro (1988)

Malam Satu Suro adalah film horor Indonesia tahun 1988 yang disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra dan dibintangi olehSuzanna dan Fendy Pradana. Film ini dikenal dengan alur ceritanya yang unik karena tidak mengetengahkan sang hantu sundel bolong sebagai tokoh antagonis seperti umumnya di perfilman nusantara kala itu, namun sebagai tokoh utama / protagonis. Film ini didistribusikan oleh Soraya Intercine Films.
Di awal film, di tengah sebuah hutan, arwah seorang wanita yang gentayangan berwujud sundel bolong dibangkitkan dari kuburannya oleh Ki Rengga, seorang dukun Jawa sakti untuk dijadikan anak angkatnya. Dukun Jawa itu berkata: “Suketi, manuta nduk, kowé arep takdadikké anak angkatku.” (“Suketi, menurutlah nak, engkau akan kujadikan anak angkatku”). Dia kemudian menancapkan paku keramat ke kepala Suketi (Suzanna), arwah penasaran tersebut, merapal mantera kuna berbahasa Jawa dan sundel bolong itu pun menjadi manusia kembali. 
Suatu hari dua orang pemuda dari Jakarta sedang berburu kelinci di hutan tersebut. Bardo Ardiyanto (Fendi Pradana), sang pemburu tersebut, bersama temannya Hari, nyaris membunuh buruannya, namun dihalangi oleh seorang wanita cantik, dia pun penasaran akan wanita tersebut dan akhirnya bertemu dengan Suketi. Bardo dan Suketi langsung saling jatuh cinta dan Bardo berniat melamar Suketi. Awalnya lamarannya ditolak oleh Ki Rengga, ayah angkat Suketi, namun akhirnya disetujui setelah permohonan Bardo yang tulus dan dorongan Suketi ke orang tua angkatnya. Bardo mengikuti syarat Ki Rengga, bahwa pernikahan harus diadakan pada “Malam satu Suro” (Tanggal 1 Sura, tahun baru dalam penanggalan Jawa) di tengah Alas Roban (“Hutan Roban”) tanpa dihadiri siapa pun kecuali sang dukun Jawa dan pasangan pengantin tersebut dalam sebuah adegan ritual mistik Jawa kuno yang diiringi tari-tarian peri.
Beberapa tahun kemudian Suketi dan Bardo hidup berkeluarga dengan bahagia di Jakarta dengan kedua anak mereka, Rio dan Preti. Keluarga mereka juga menjadi kaya raya karena konon bila menikahi Sundel bolong maka seseorang akan menjadi kaya raya. Suatu hari Joni, seorang pengusaha licik menawarkan perjanjian bisnis di kantor Bardo, namun ditolak karena taktiknya yang kotor. Joni menyimpan dendam dan berniat menjatuhkan Bardo. Joni datang ke Mak Talo, seorang dukun lain, dan mengetahui bahwa istri bardo dulunya adalah Sundel Bolong. Mak Talo dan Joni mendatangi rumah Bardo dan mencabut paku yang menancap di kepala Suketi, sehingga Suketi berubah menjadi Sundel Bolong kembali. Malamnya Bardo yang kebingungan menemui mertuanya di Alas Roban dan mengetahui latar belakang Suketi yang sesungguhnya. Suketi dulunya adalah seorang wanita muda yang mati bunuh diri setelah diperkosa dan hamil, arwahnya tidak beristirahat dengan tenang dan menjelma menjadi hantu Sundel Bolong yang penuh dendam. Setelah membalas dendam, dia kemudian dibangkitkan kembali oleh Ki Rengga untuk menjadi anak angkatnya.
4. Poltergeist (1982)

Banyak orang tidak sudi jika rumahnya ternyata berhantu. Tetapi jika hantu itu hanya sekadar menampakkan diri saja, itu masih mending dibandingkan jika hantu itu ternyata adalah poltergeist. Hantu jenis poltergeist itu suka mengganggu bahkan tidak jarang menyerang orang atau hewan dengan kekerasan. Seperti yang diceritakan dalam film horor populer "Poltergeist" (1982).
Nah, yang akan disaksikan Anda kali ini adalah film sekuelnya yaitu "Poltergeist III" hasil besutan sutradara Gary Sherman pada tahun 1988. Jika dua film "Poltergeist" terdahulu berseting pada daerah perumahan pinggiran kota, kali ini film tersebut berseting di sebuah wilayah kota Chicago yang penuh gedung pencakar langit seperti bangunan apartemen dan kantor.
Kisahnya dimulai ketika Carol Anne Freeling (Heather O'Rourke) yang merupakan tokoh utama dalam dua film "Poltergeist" sebelumnya, dikirim untuk tinggal bersama bibinya, Trish Gardner (Nancy Allen), pamannya, Bruce (Tom Skerritt) dan sepupunya yang remaja, Donna (Lara Flynn Boyle). Carol Anne dikirim orangtuanya pada bibi dan pamannya agar bisa bebas dari cengkeraman hantu poltergeist Reverend Kane (Nathan Davis).
Sayangnya usaha itu sia-sia karena hantu Kane yang jahat itu ternyata berhasil menemukan Carol Anne di Chicago. Celakanya terapisnya, Dr. Seaton (Richard Fire) tidak mempercayai protes Carol Anne bahwa hantu Kane itu menerornya. Hantu jahat itu suka tampil di cermin itu, berusaha menangkap gadis kecil tersebut sekali lagi. Walau sangat ketakutan, Carol Anne tahu bahwa tidak satupun orang termasuk bibi dan pamannya akan percaya soal hantu itu sehingga ia tetap tutup mulut. Carol Anne tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghindari hantu Kane.

3. Rosemary’s Baby (1967)

film yang diangkat dari novel terbitan tahun 1967 ini. Dan ternyata Roman Polanski yang membidani film yang sekarang dianggap sebagai salah satu film horror terbaik sepanjang masa ini.
Diceritakan sepasang suami istri muda, Guy (John Cassavetes) dan Rosemary (Mia Farrow) baru saja pindah ke apartemen baru mereka. Kehidupan mereka terasa amat mesra di tempat tinggal baru tersebut. Walaupun masih ada bebrapa hal yang mereka rasa kurang. Guy yang seorang aktor sedang tidak mendapat job dan gagal dalam beberapa casting. Tapi yang paling dirasa kurang adalah mereka belum mempunyai anak. Suatu hari wanita yang merupakan tetangga di apartemen mereka ditemukan tewas jatuh dari lantai atas dan diduga bunuh diri. Wanita muda bernama Terry itu tinggal bersama 2 pasangan suami istri tua yang juga tidak mempunyai anak, Minnie Castevet (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer). Keduanya merasa berterimakasih atas simpati yang diberikan Rosemary setelah Terry tewas dan mulai mengundang Rosemary dan Guy makan malam. Awalnya pasangan tersebut merasa risih dengan keramahan Roman dan Minnie yang terasa agak berlebihan. Tapi lama-lama mereka makin akrab khususnya Guy.
Suatu malam Rosemary bermimpi diperkosa oleh sesosok makhluk aneh. Setelah mimpi itu ternyata kehidupan pasangan suami istri itu justru berubah. Guy berhasil mendapat peran yang dia incar setelah pesaingnya mendadak buta. Dan yang paling membahagiakan adalah Rosemary akhrinya hamil.Tetapi kebahagiaan Rosemary perlahan mulai berubah menjadi rasa takut dan curiga. Perhatian berlebihan yang diberikan Minnie dan Roman terhadap kandungannya, sikap sang suami yang juga berubah, sampai sebuah petunjuk yang didapatnya dari sebuah buku yang diberikan almarhum kawannya sebelum meninggal yang seakan menunjukkan kalau Roman dan Minnie adalah penyihir. Rosemary mulai beranggapan kalau Roman dan Minnie berusaha untuk mengambil bayi dalam kandungannya. Rosemary bahkan beranggapan kalau sang suami juga terlibat. Benarkah itu? Atau hanya dugaan Rosemary belaka?
Roman Polanski berhasil menghadirkan sebuah horror misteri yang berhasil membawa penonton ikut merasakan ketegangan, kekhawatiran, dan kebingungan seperti yang dirasakan Rosemary. Diparuh awal film kita akan diaajak mengikuti kehidupan Ro dan Guy yang begitu harmonis. Saya sendiri ikut merasakan kebahagiaan dan keharmonisan mereka. Lalu secara perlahan Polanski mulai mengikutsertakan pasangan suami istri Castevets masuk kedalam kehidupan mereka dimana awalnya kita akan dibuat sebal sekaligus lucu akan tingkah laku keduanya khususnya Minnie, tapi lama kelamaan seiring dengan Rosemary yang curiga, kita juga akan merasakan curiga. Ketegangan yang dibangun secara perlahan ini terbukti sukses membawa penonton ikut masuk kedalam cerita. Sampai sekitar 30 menit terakhir kita akan dibawa kedalam puncak ketegangan yang sebenarnya sederhana tapi ditampilkan dengan maksimal dimana kita akan dibuat mengkhawatirkan nasib Rosemary dan bayinya sekaligus berpikir apakah Guy dan suami istri Castevets memang penyihir pemuja setan atau hanya sekadar prasangka Rosemary.
Hebatnya lagi, Polanski tidak hanya meyuguhkan ketegangan tetapi juga menawarkan beberapa momen lucu, bahkan hingga film ini mendekati akhir. Momen lucu tersebut tidak ditampilkan gamblang dan mendominasi adegan tetapi cukup memancing senyum bahkan tawa ditengah ketegangan. Scene stealer film ini sekaligus yang cukup sering menyumbang momen lucu sekaligus menyebalkan tentunya Ruth Gordon. Sebagai Minnie Castevets yang over protective, lebay, banyak omong, tapi juga msiterius dia sangat berhasil. Dan berkat perfotmanya dia diganjar "Best Supporing Actress" di Oscar. Mia Farrow sebagai Rosemary dengan potongan rambutnya yang unik dan ikonik juga berhasil mendapat nominasi untuk "Best Actress-Drama" di Golden Globe. Sempat tersiar kabar film ini akan di-remake oleh Platinum Dunes milik Michael Bay yang sudah banyak me-remake sekaligus merusak film horror klasik. Untungnya rencana ini batal.

2.  The Shining (1980)


Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja mendapatkan pekerjaan baru sebagai penjaga / cartaker Overlook Hotel, sebuah hotel mewah yang terletak di resort pegunungan Rocky Mountain , Colorado selama musim dingin berlangsung. Jack yang begitu bersemangat dengan pekerjaan barunya ini sampai-sampai tidak lagi terlalu ambil pusing dengan peristiwa mengerikan yang pernah terjadi di hotel itu 5 tahun lalu atau nantinya ia beserta istrinya, Wendy (Shelley Duvall) dan putranya, Danny (Danny Lloyd) akan tinggal sendiri 5 bulan lamanya di hotel tua yang konon dibagun diatas pekurburan Indian tersebut.
Setelah satu bulan tinggal di Overlook Hotel yang terisolasi oleh salju tebal, kejadian-kejadian aneh pun mulai bermunculan. Danny yang ternyata memiliki kemampuan paranormal yang disebut “The Shining” mulai melihat penampakan-penampakan mengerikan yang membuatnya ketakutan setengah mati. Jack pun tidak ketinggalan, diganggu oleh kekuatan supranatural jahat yang perlahan-lahan mulai merasuki jiwa dan menghilangkan akal sehatnya. Kejadian buruk yang terjadi 5 tahun sebelumnya tampaknya akan terulang sekali lagi di Overlook Hotel yang angker itu.
Stanley Kubrick dan Stephen King, dua nama tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan alasan utama mengapa The Shining menjadi sugguhan psychological horror klasik yang wajib tonton. The Shining sendiri merupakan adapatasi dari novel berjudul sama karya sang master misteri, Stephen King yang berhasil diterjemahkan dengan sempurna oleh Kubrick dalam media film sepanjang 146 menit. Seperti sudah menjadi rahasia umum Kubrick tidak pernah setengah-setengah dalam menggarap film-filmnya, itulah yang membuat sutradara legendaris satu ini disegani, bahkan oleh sesama sineas dunia lainnya, dan metode tersebut juga diterapkan dalam filmnya satu ini.
Syuting yang melelahkan dengan naskah yang sering berganti secara mendadak setiap harinya tidak jarang membuat para pemain-pemainnya stress pun terbayar lunas setelah kita melihat hasilnya. Sebuah suguhan horror atmosphric yang kental dengan aroma kengerian dan ketegangan luar biasa benar-benar mampu menjadi sajian utama The Shining. Musik score klasik mengerikan dari Wendy Carlos & Rachel Elkind yang sejak awal film sudah setia menemani, berpadu dengan angkernya setting Overlook Hotel dengan koridor-koridor panjangnya yang suram semakin membuat bulu kuduk penontonnya berdiri. Belum lagi penggunaan Steady Cam yang mampu membuat kamera bergerak dinamis mengikuti setiap pergerakan karakaternya menjadikan The Shining salah satu yang terbaik di genrenya. Tidak seperti karya Kubrick yang sudah-sudah dimana penuturan cerita dibuat sangat lambat, dalam The Shining Kubrick menaikan tempo menjadi sedikit lebih cepat namun tetap tidak kehilangan ciri khasnya, tujuannya jelas agar dapat dinikmati semua kalangan. Dan sebuah twist manis pun sukses menutup The Shining dengan meninggalkan sejuta pertanyaan kepada penontonnya tentang apa yang terjadi sebenarnya pada karakter Jack Torrance.
Kehadiran Jack Nicholson sebagai Jack Torrance jelas membuat film ini menjadi semakin kuat dan selalu akan diingat penontonnya. Nicholson tampil garang dan mengerikan sepanjang film, walaupun harus diakui tidak jarang timbul kesan lucu disaat melihat ekspresi ‘gila’ aktor yang saat ini berusia 73 tahun. Shelley Duvall sebagai yang disebut-sebut sebagai aktris yang tersiksa sepanjang proses syuting juga berhasil tampil maksimal. Dibawah tekanan yang luar biasa dari seorang Kubrick yang menuntutnya berakting sesempurna mungkin ternyata mampu membuat Duvall tampil meyakinkan, apalagi didukung dengan wajahnya yang unik.
Overall, Tidak heran jika banyak penonton yang memasukan The Shining dalam list film horror klasik favorit mereka, karena horror psikologis kolaborasi Kubrick-King ini memang yang terbaik di genrenya, bahkan sampai sekarang The Shining adalah salah satu ‘obat’ manjur yang dapat membuat penontonnya bermimpi buruk setelah menontonnya.
1.  The Exorcist (1973)

Inilah film yang sering memuncaki list film paling menakutkan sepanjang masa. Berdasarkan novel berjudul sama karya William Peter Blatty, The Exorcist menjadi film horror pertama yang masuk nominasi Best Picture Oscar 1973 dan memenangkan 2 dari 10 nominasi. Film ini menuai banyak kontroversi ketika dirilis, dari kecaman organisasi agama hingga penonton yang muntah dan pingsan saat menonton di bioskop. Video resmi film ini juga sempat dilarang di Inggris selama 26 tahun.
Chris MacNeil (Ellen Burstyn) adalah aktris film dan ibu tunggal untuk putrinya Regan (Linda Blair) yang baru berusia 12 tahun. Suatu malam Regan mengeluh tempat tidurnya bergetar. Hari berikutnya, Regan menunjukkan perubahan psikologis yang mengganggu seperti mengumpat dengan makian kotor dan kejang di ranjangnya. Chris pun membawa Regan ke dokter, dari ahli saraf hingga psikiater gagal mendiagnosa kondisinya. Keadaan Regan semakin memburuk, ia mulai menyerang dirinya sendiri maupun orang lain secara fisik. Melakukan hal yang tak pernah terbayangkan dengan sebuah salib kecil, bahkan dapat membalikkan kepalanya 360 derajat.
Chris yang seorang atheis mulai yakin putrinya kerasukan, Ia pun mendatangi Romo Damien Karras (Jason Miller)– pastur sekaligus psikiater yang juga tengah krisis iman pasca kematian ibunya- untuk melakukan eksorsisme, sebuah ritual kuno pengusiran setan dibawah Gereja Katholik. Walau awalnya ragu, setelah beberapa pertemuan dengan Regan, Romo Karras pun meminta izin Gereja untuk melakukan eksorsisme. Yang kemudian mengutus Romo Lankester Merrin (Max Von Sydow), pastur senior yang telah berpengalaman dalam eksorsisme untuk membantunya.
Menonton The Exorcist di abad 21, kebanyakan orang tidak akan sangat ketakutan. Namun film ini tetap yang terbaik dalam menciptakan ketegangan lengkap lewat cerita, visual, teknis hingga akting pemainnya. Sementara efek khusus hampir tidak standar yang dipakai hari ini, tapi tetap tampak realistis dan mencekam. Begitu pula make-upyang luar biasa, selain transformasi wajah Regan yang kerasukan, lihat juga make-upMax Von Sydow yang waktu itu berusia 42 tahun tampak benar-benar berusia 70-an tahun. Film ini juga memiliki music score “Tubular Bells”  karya Mike Oldfield yang amat efektif membangun nuansa horror, tapi uniknya score tersebut sangat jarang muncul dan hanya muncul sesekali saja. Intinya, The Exorcist tidak perlu banyak musik menyebalkan untuk membentuk ketegangan seperti film horror modern sekarang ini.
Dari barisan akting, Ellen Burstyn sukses menunjukkan transformasi karakternya dari selebriti ceria menjadi ibu rentan– putus asa dengan keadaan putrinya. Lalu ada Max Von Sydow dan Jason Miller, keduanya merupakan aktor besar ketika datang ke ekspresi wajah dan akting fisik. Kinerja Miller khususnya penuh dengan nuansa. Namun Linda Blair- lah pusat kekuatan film ini, ia cemerlang ekspresif dan menyenangkan sebagai Regan sebelum kerasukan, kemudian langsung mengganggu saat karakternya kerasukan. Karena wajahnya secara bertahap berubah begitu juga aktingnya. Blair jelas sangat berdedikasi untuk pekerjaannya walau baru berusia 14 tahun. 
Apresiasi lain harus ditujukan kepada Mercedes McCambridge, aktris veteran pengisi suara Regan saat kerasukan. Ia rela merokok terus menerus, mengunyah campuran apel dan telur mentah hingga muntah-muntah untuk menciptakan efek suara iblis, sampai terdengar nyata menghantui penonton. Bila mendengar suara iblis, maka sulit mengatakan apakah itu pria atau wanita, karena sangat tidak manusiawi dan tampak tidak alami. McCambridge jelas telah melakukan pekerjaan brilian dengan suaranya.
The Exorcist mungkin tidak lagi menakutkan seperti dulu, tapi masih tetap menghibur sebagai sebuah film horror kuat yang memberikan ketakutan tak terlupakan. Film ini mampu membuat penonton merasa apa yang karakter rasakan, takut apa yang mereka takuti dan dibuat dengan baik pada berbagai tingkatan yang mempertemukan kisah mistis dengan agama, gagasan ilmiah, filosofis dan spiritual. Penggemar horor masih memilih ini sebagai film horor terbaik yang pernah dibuat, dan sangat mudah untuk melihat mengapa. Empat dekade setelah rilis, The Exorcist masih berdiri di antara pengekor yang tak terhitung jumlahnya.
gimana, penasaran ayo silakan di coba ditonton dan nilai sendiri bagiaman menurut kalian tentang film yang telah kami ulah diatas? apakah seseram yang kami ceritakan ?
 
 
Source: wisatamistis.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar